Seorang filsuf pernah berkata kira-kira demikian “Aku berpikir maka aku ada”.
Manusia adalah makhluk sosial, saya rasa semua orang setuju. Yang menjadi pertanyaannya adalah sejauh mana kondisi sosial bisa mempengaruhi suatu individu?
Pernah suatu kali saya tak jadi membeli sehelai baju yang sudah lama saya inginkan hanya karena 2 orang teman mengatakan bahwa baju itu tidak cocok untuk saya. Seorang teman mangurungkan niatnya untuk mendekati seorang gadis karena secara tak sengaja saya memberikan penilaian secara fisik yang tak diduganya tentang gadis itu.
Selera pribadi bisa berubah secara tak sadar kerena terseret oleh sebuah tren atau selera massal yang kebanyakan terbentuk akibat perbuatan seorang idol(sosok idola yang dipuja). Saya tak yakin bahwa tren cara berpakaian di Bandung yang sangat homogen adalah selera masing-masing pribadi yang kebetulan terjadi secara bersamaan. Adalah opini publik yang mengatakan bahwa ini bagus, itu pantas, dan layak untuk diikuti, sehingga ribuan anak muda merasa ketinggalan jika tidak mengikutinya. Pilihan itu diambil demi memenuhi anggapan bahwa orang-orang suka saya berpakaian, bertingkah laku bahkan “menjadi” seperti ini dan itu.
Berikut adalah kutipan dari novel The Alchemist karangan Paulo Coelho.
“Mengapa engkau menjadi penggembala domba-domba?” “Karena aku senang berkelana.”
Laki-laki tua itu menunjuk tukang roti yang berdiri di balik jendela tokonya di salah satu sudut alun-alun.”Ketika masih kanak-kanak, orang itu juga ingin berkelana. Tapi dia memutuskan pertama-tama akan membuka toko roti, lalu mengumpulkan uang. Nanti kalau sudah tua, dia ingin bepergian selama sebulan ke Afrika. Dia tidak menyadari, orang bisa melaksanakan impiannya kapan saja.”
“Mestinya dulu dia memutuskan menjadi gembala saja,” kata si anak.
“Itu pernah terlintas dalam pikirannya,” kata laki-laki tua itu.”Tapi menjadi tukang roti lebih dihargai daripada gembala. Tukang roti mempunyai rumah, sementara gembala tidur di alam terbuka. Para orangtua lebih suka anak mereka menikah dengan tukang roti daripada gembala.”
Anak itu merasa terpukul, teringat putri sang saudagar kain. Di kotanya tentu ada tukang roti juga.
Laki-laki tua itu melanjutkan, “Pada akhirnya, pendapat orang tentang penggembala dan tukang roti jadi lebih penting bagi mereka daripada takdir mereka sendiri.”
Sampai pada kondisi yang paling ekstrim, seseorang bisa merasa bahwa ke”ada”annya sangat ditentukan oleh orang-orang di sekitarnya.
Sampai pada kalimat akhir sepertinya belum ada korelasi dari tulisan ini dengan ungkapan sang filsuf di awal tadi. Um…bisa dikatakan seperti itu, tetapi cobalah telaah sedikit lebih dalam barangkali anda akan menemukannya.
Selamat menikmati…