Berhenti berharap

Aku pernah berharap,
Ya aku pernah, hmm…sering, oh iya hampir selalu
Aku pernah kecewa, sangat kecewa,
Sakit, sakit sekali
Apa kau pernah juga?
Kuharap ya…

Aku pernah tidak berharap,
Ya aku pernah, hm….tapi tidak sering, dan hampir selalu tak bisa
Tapi bahagiaku penuh, katakanlah bahagia,
atau…setidak-tidaknya ngga kecewa
Apa kau pernah juga?
Kuharap ya…

Sekarang aku mulai bingung
Haruskah aku berhenti berharap?

Diterbitkan di: on Juni 5, 2008 at 10:05 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Si gadis berbaju merah

Mataku tak bisa lepas dari si gadis berbaju merah itu
Mengamati tingkahnya yang kekanak-kanakan dari kejauhan, yang sebentar berlari mendekati air dan menjauh lagi menghindari percikan ombak yang beberapa kali berhasil membasahi wajah ovalnya.
Untuk beberapa saat dia duduk kembali bersama teman-temannya yang sudah basah kuyup sehabis bermain-main air.
Rambutnya yang hitam panjang dikepang dengan ikat rambut merah yang sangat cocok dengan baju merahnya.
Meski tubuhnya sudah mencapai bentuk yang hampir sempurna dengan payudara dan pinggul yang cukup untuk membuatku berpikir hm…hm…hm…, tapi menurut perkiraanku dia belum menginjak usia SMA.
Hidungnya tidak mancung tapi tidak terlalu pesek untuk ukuran Indonesia.
Kulitnya bersih dengan warna Asia yang sangat memikat.
Keceriaan yang terlihat padanya menunjukkan bahwa hidup masih begitu indah pada usianya yang masih sangat belia.

Diterbitkan di: on at 9:38 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Aku di tengah-tengah mereka

01:40 dini hari
Aku merasa begitu dekat dengan hidup,
aku merasa hampir menyentuh kenyataan
justru dalam keterasinganku.
Melalui suara-suara deru motor, mobil,
atau apalah yang kudengar melintasi dinding-dinding,
atap-atap, gang-gang sempit, yang mencapai
titik keheningannya pada jam seperti sekarang,
ya…pukul 01:45 dini hari.
Sebuah tangisan bayi yang sepertinya tak jauh
dari tempatku berdiam meyakinkanku
bahwa hidup itu memang ada, disini…,dan saat ini.
Aku sungguh ada disini, kesunyian mengatakan demikian.
Aku hampir sepenuhnya percaya
bahwa perjalanan suara-suara itu sampai ke telingaku
membuktikan adanya kehidupan lain di sekelilingku.
Setidaknya begitulah yang bisa kuterjemahkan
melalui indra pendengaranku.
Aku tak harus meragukan keberadaan mereka,
tapi aku masih harus mempertanyakan dimana persisnya,
darimana tepatnya asal suara-suara itu.
Di hadapanku ada sebuah tembok,
dan aku yakin suara-suara itu telah menyentuhnya
sebelum sampai padaku.
Mungkinkah tembok-tembok itu yang membuatku merasa
jauh dari kehidupan yang sebenarnya?
Ataukah aku yang menempatkan tembok-tembok itu disana
untuk menjauhkanku dari mereka?
Oh…aku bingung mana dari keduanya yang paling tepat
untuk kupertanyakan.
Akan tetapi kembali,
suara-suar itu memberiku satu kenyataan yang berbeda.
Ternyata mereka tidak ada di sekelilingku,
akulah yang ada di tengah-tengah mereka.
Dan sekali lagi kesunyian yang memberitahukannya padaku.
02:45

Diterbitkan di: on at 9:36 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Nyasar ke Kawah Putih

Dibilang nyasar, ngga sih sebenarnya…salah ngambil jalan aja, hehe… Jadi ceritanya gini :

Kemarin hari minggu tanggal 11 kan ada Binkija tuh(Pembinaan Kompi Remaja) di Ciwidey. Materinya Rappeling, Ascending ama Turun Tebing.

Waktu itu ada 2 motor 1 mobil, siswa sama danki(AA Aji) dan 2 pelatih senior(Om Dion dan Mas Joko) naik mobil mako. Aku, Ditya, ama Mira naik motor. Selesai latihan kok rasanya perlu refreshing ya!!! Setelah semua udah siap untuk berangkat, ternyata kita belum pamit sama ketua RT, jadi akhirnya yang naik mobil berangkat duluan. Selesai pamit, kita berangkat juga, tapi jalan yang kita ambil beda ama yang naik mobil, kita ambil ke kanan padahal jalan pulang itu ke kiri…Kita nyasar deh sampe ke Kawah Putih…Hahaha…

Dari tempat latihan itu sekitar 1/2 jam nyampe ke Kawah Putih. Pemandangannya lumayanlah, tapi yang kita kunjungi kebetulan hanya kawahnya aja, katanya sih kalo naik dikit lagi ada tempat yang bagus banget. Kapan-kapan deh kesana lagi.

dsc00939.jpg dsc00957.jpg dsc00968.jpg

dsc00952.jpg

 

Habis dari kawah, kita bertiga mau langsung balik, tapi sayang langsung turun hujan. Kita nungguin aja jadinya sambil makan indomie rebus ama kopi hangat, maknyus enak banget, sumpah…Tapi selama di jalan sampe ke Bandung itu kita hujan-hujanan, itu harga yang harus dibayar kali ya karena belok dari misi utama…Tapi asik kok sebenarnya…

Oh iya pengen minta maaf nih ama AA Aji, soalnya kita ngga bisa pergi bareng…Soalnya si AA kan Danki sejati, jadi harus bersama pasukan, hehehe…Kalau ada waktu lagi kita pergi lagi deh…oke A??? Sama Mas Joko dan Om Dion juga pengen minta maaf karena kita”salah ambil jalan” tanpa pemberitahuan…hehehe…

Oke sekian dulu untuk cerita kali ini…

Diterbitkan di: on November 12, 2007 at 2:35 pm Komentar (2)

Code musik di “The Last Supper”

Seorang musisi asal Italy menemukan code di balik lukisan Leonardo Da Vinci “The Last Supper”. Berikut gambar yang menunjukkan penemuan tersebut.

ap_last_supper_071109_ms.jpg

Betapa jeniusnya jika memang melalui lukisan ini Da Vinci juga menyertakan komposisi yang dikatakan oleh Pala (sang musisi) adalah lagu “hymn to God”.

Namun ada yang berpendapat bahwa kita juga dapat menemukan komposisi musik lainnya pada benda-benda alam harmonik lainnya. Jadi masih diragukan apakah memang Leonardo Da Vinci memang menyelipkan sebuah kompisisi pada lukisannya.

Diterbitkan di: on at 8:22 am Tinggalkan sebuah Komentar

Tuhan Akan Memelihara Sang Mesias

Seorang  petani  kaya  lari  masuk  rumah  di suatu hari dan
berteriak   dengan   suara   takut,   "Rebeka,   ada   kabar
menggemparkan di kota - Mesias ada di sini!"

"Apa  yang menggemparkan?,' tanya istrinya. "Aku berpendapat
itu luar biasa. Engkau terkesima karena apa?"

"Terkesima   karena   apa?"   seru   si   suami.    "Setelah
bertahun-tahun  berjerih  payah,  kami akhirnya bisa makmur.
Kami punya seribu ekor ternak, lumbung  kami  limpah  gandum
dan  pohon-pohon penuh buah. Sekarang kami harus meninggakan
ini semua dan ikut dia."

"Tenang dulu," kata istrinya menghibur,  "Tuhan  Allah  kita
itu  baik.  Ia  tahu, betapa banyak kami orang Yahudi selalu
harus menderita. Kami  menghadapi  Firaun,  ada  Haman,  ada
Hitler,  selalu  ada saja. Tetapi Tuhan yang baik tahu jalan
untuk  menangani  mereka  semua,  bukan?  Hanya   percayalah
suamiku  tercinta.  Ia  akan tahu jalan menangani Mesias ini
juga."

                   (DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)
Diterbitkan di: on November 5, 2007 at 3:54 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Aku ada karena mereka ada

Seorang filsuf pernah berkata kira-kira demikian “Aku berpikir maka aku ada”.

Manusia adalah makhluk sosial, saya rasa semua orang setuju. Yang menjadi pertanyaannya adalah sejauh mana kondisi sosial bisa mempengaruhi suatu individu?

Pernah suatu kali saya tak jadi membeli sehelai baju yang sudah lama saya inginkan hanya karena 2 orang teman mengatakan bahwa baju itu tidak cocok untuk saya. Seorang teman mangurungkan niatnya untuk mendekati seorang gadis karena secara tak sengaja saya memberikan penilaian secara fisik yang tak diduganya tentang gadis itu.

Selera pribadi bisa berubah secara tak sadar kerena terseret oleh sebuah tren atau selera massal yang kebanyakan terbentuk akibat perbuatan seorang idol(sosok idola yang dipuja). Saya tak yakin bahwa tren cara berpakaian di Bandung yang sangat homogen adalah selera masing-masing pribadi yang kebetulan terjadi secara bersamaan. Adalah opini publik yang mengatakan bahwa ini bagus, itu pantas, dan layak untuk diikuti, sehingga ribuan anak muda merasa ketinggalan jika tidak mengikutinya. Pilihan itu diambil demi memenuhi anggapan bahwa orang-orang suka saya berpakaian, bertingkah laku bahkan “menjadi” seperti ini dan itu.

Berikut adalah kutipan dari novel The Alchemist karangan Paulo Coelho.

“Mengapa engkau menjadi penggembala domba-domba?” “Karena aku senang berkelana.”

Laki-laki tua itu menunjuk tukang roti yang berdiri di balik jendela tokonya di salah satu sudut alun-alun.”Ketika masih kanak-kanak, orang itu juga ingin berkelana. Tapi dia memutuskan pertama-tama akan membuka toko roti, lalu mengumpulkan uang. Nanti kalau sudah tua, dia ingin bepergian selama sebulan ke Afrika. Dia tidak menyadari, orang bisa melaksanakan impiannya kapan saja.”

“Mestinya dulu dia memutuskan menjadi gembala saja,” kata si anak.

“Itu pernah terlintas dalam pikirannya,” kata laki-laki tua itu.”Tapi menjadi tukang roti lebih dihargai daripada gembala. Tukang roti mempunyai rumah, sementara gembala tidur di alam terbuka. Para orangtua lebih suka anak mereka menikah dengan tukang roti daripada gembala.”

Anak itu merasa terpukul, teringat putri sang saudagar kain. Di kotanya tentu ada tukang roti juga.

Laki-laki tua itu melanjutkan, “Pada akhirnya, pendapat orang tentang penggembala dan tukang roti jadi lebih penting bagi mereka daripada takdir mereka sendiri.”

Sampai pada kondisi yang paling ekstrim, seseorang bisa merasa bahwa ke”ada”annya sangat ditentukan oleh orang-orang di sekitarnya.

Sampai pada kalimat akhir sepertinya belum ada korelasi dari tulisan ini dengan ungkapan sang filsuf di awal tadi. Um…bisa dikatakan seperti itu, tetapi cobalah telaah sedikit lebih dalam barangkali anda akan menemukannya.

Selamat menikmati…

Diterbitkan di: on at 3:41 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Melukis itu benar-benar harus bakat atau bisa dipelajari?

p1001011.jpg

Banyak orang yang berpendapat bahwa seorang seniman adalah orang yang benar-benar terlahir untuk menjadi seorang seniman, atau dengan kata lain kemampuan seninya merupakan bakat alami yang telah dibawa sejak lahir. Akan tetapi beberapa pendapat yang bahkan telah melalui sebuah penelitian juga mengungkapkan bahwa seni itu bisa dipelajari. Faktor bakat memang ada dan memang sangat berpengaruh, tetapi itu hanya untuk mempercepat perkembangannya.

Saya sering berpikir bahwa pendapat yang kedua tadi hanyalah sebuah “kata-kata penghiburan” bagi orang-orang yang dapat dikatakan kurang berbakat tetapi memiliki keinginan kuat dan kerja keras untuk menjadi seorang seniman. Tetapi itu masih pendapat saya saja, belum cukup bukti untuk itu.

Saya pernah membaca buku berjudul “Jenius Kreatif”, saya lupa siapa penulisnya. Disana banyak diulas tentang para jenius seni dari jaman-jaman Renaisans,Barok, Klasik, Modern, juga postmodern. Beberapa diantaranya seperti Micheleangelo, Leonardo Da Vinci, Mozart, Beethoven, Pablo Picasso, Van Gogh. Di sana dikatakan bahwa seni itu dapat dipelajari dengan berbagai metode sistematis yang dibuat berdasarkan cara-cara kerja para seniman besar di atas.

Bagaimana pendapat anda?

Diterbitkan di: on November 1, 2007 at 2:39 am Komentar (11)

Ekspedisi Ciremai

Ide pendakian ini sebenarnya udah lamaaaaa banget, sejak masih intensif spmb bayangin.
Akhirnya setelah tingkat akhir ini baru kesampean, bahkan udah ada yang lulus lho…
Okelah aku ceritain mulai dari latar belakangnya…
Liat-liat di kalender akademik awal oktober ada libur yang lumayan panjang, di otak langsung
muncul tanda tanya besar,mau ngapain ya???
Tiba-tiba melintas deh kata-kata sakti itu,”mendaki gunung”.
Langsung tanya-tanya teman yon-1 gunung mana yang paling dekat
tapi kalo bisa yang agak menantang dikit.
Ciremai, serentak banget bilangnya.
Wah cocok deh itu, apalagi mereka udah rata-rata pernah kesana,
jadi aku bisa dapatin informasi dari mereka ditambah dari internet.
Langkah selanjutnya adalah menghubungi rekan-rekan “AD”,
dan kebetulan responnya lumayan antusias, langsung deh nyusun rencana.
Awalnya ada sekitar 8 orang sih yang pengen ikut,
tapi karena satu dan lain hal 4 orang jadinya yang nyatakan “siap!!!”
Jadi ingat nih salah seorang rekan, sebut saja Stephen(bukan nama sebenarnya,red),
yang nyatain siap h-2 dan salah ngambil bus dari Kampung Rambutan(lewat Bogor),
udah gitu ngga dapat tempat duduk lagi, kcian deh…

Mungkin udah cukup kali ya pengantarnya,
Skarang kita langsung liat-liat fotonya deh plus sedikit ulasan tentang fotonya.

(lagi…)

Diterbitkan di: on Oktober 31, 2007 at 12:37 am Komentar (5)

Reuni XII Pertama se-Jawa

Aku ingat waktu itu pas libur lebaran tahun 2004.Maklum baru beberapa bulan keluar dari asrama, rasa kangensama teman-teman masih terasa.
Maka betapa eloknya kalo kita bikin reuni kecil-kecilan
walau hanya bisa diikuti sama teman-teman yang sekitar Bandung
dan Depok. Wah ternyata yang dari Depok juga ngga keberatan
kalau harus merogoh kocek untuk berlibur ke Bandung.
Ruma Parsaktian kita kala itu adalah di gubuk reot Ciumbuleuit.
Rumah tak seberapa yang akhirnya kita bom itu adalah saksi bisu
hangatnya persaudaraan di antara kita(anjrot,berlebihan banget).
Nyari makan susahnya minta ampun karena biasanya kalo lebaran
warung-warung makan pada tutup, solusinya ya kita masak sendiri akhirnya.
Lumayan juga rasanya bisa nyediain makan sama-sama untuk perut semua.

judi.jpg

Kurang seru nih kalau hanya diam di rumah aja liburan gini.
Muncul deh ide jalan-jalan, nah kebetulan yang paling dekat itu
Dago Pakar, ya udah kita bikin kesana aja.
Ini ada beberapa fotonya…

goa.jpg

Tempatnya lumayan hijau, ya namanya juga taman hutan raya.
Kita ngunjungin beberapa tempat seperti goa Jepang,
pokoknya tempat-tempat santailah.

riang.jpg
Di akhir acara, seperti biasa kita bikin acara heart-to-heart
yang sebenarnya lebih pantas disebut ajang untuk saling
mengejek dan menjadikan orang lain sebagai bahan tertawaan.
Ngga jarang kalau acara ginian bikin beberapa orang marah,
tapi kita biasanya nikmatin aja, dan sepertinya ini udah

semua.jpg
salah satu ciri khas kita “AD”.
Orang yang paling sering jadi sasaran kalo udah gini adalah
“Meniup”, sori ya tiup…Sebenarnya kita ngga ada maksud jelek
sih, hanya karena kau emang gampang marah dan baik lagi makanya
kita sering ngejekin, dan itu emang benar-benar lucu gitu lho.
Jangan marah ya kalo baca halaman ini…

sabuga.jpg

Momen itu lumayan berkesanlah sebenarnya kalo diingat-ingat.
Setelah itu juga kita sedikit ngenalin kampus kita ama teman-teman
yang belum pernah singgah. Itu juga ada fotonya kok.

gerbang.jpg

Kangen juga sih bisa bikin acara kayak gini, cuman kebanyakan
kita udah punya banyak kesibukan sendiri jadi emang susah
cari waktu yang pas.

Buat teman-teman yang ngga ikut, ya kita tunggu aja waktu yang lain
yang lumayan tepat, mungkin kita bisa ngadain lagi acara kayak gini.

Silahkan kasih komentar atau barangkali ada yang nambahin cerita
atau kesan-kesan tentang kegiatan ini. Atau ada rencana lain mungkin
untuk di lain hari, silahkan aja…

thanks…

Diterbitkan di: on at 12:15 am Komentar (2)
Tags: ,